Kata-kata Terakhir Vera Oktaria Kasir Cantik Indomaret yang Tewas Dimutilasi di Sungai Lilin

oleh

– Terungkap kata-kata terakhir Vera Oktaria kasir cantik Indomaret yang tewas dimutilasi di sungai Lilin, Kota Palembang

Kata-kata terakhir Vera Oktaria itu diungkapkan oleh Arina yang merupakan kepala toko indomaret tempat kasir cantik itu bekerja

Dilansir dari Sumsel dalam artikel ‘Vera Oktaria Dimutilasi di Sungai Lilin, Ternyata Baru Seminggu Kerja di Indomaret, Pamit Mau Pulang’, Arina mengungkapkan saat terakhir kali ketemu Vera Oktaria cuma bilang ‘pulang bu’

Manurut Arina, Vera Oktaria baru satu minggu bekerja di indomaret yang dipimpinnya

“Kebetulan saat terakhir ketemu saya shift sore sedangkan vera shift pagi jadi kami sempat ketemu, dia juga biasanya kalo pulang kerja naik motor sendiri,” ujar Arina
Rekan Vera Oktaria Membagikan Pesan DM Terakhirnya

Rekan Vera Oktaria Membagikan Pesan DM Terakhirnya (Facebook Mhd Perjaka Purwata)

Arina juga menjelaskan bahwa ibu korban juga sempat datang malam hari menanyakan keberadaan Vera, sampai esok harinya pun ia tidak masuk lagi.

“Kami tidak menyangka bahwa korban mutilasi itu Vera, kami sendiri dapat info dari media sosial dan pesan whatsApp berantai,” ujar Arina

Vera Oktaria (20) perempuan cantik kasir minimarket di Palembang ditemukan tidak bernyawa di sebuah hotel di Sungai Lilin Musi Banyuasin, sekitar 132 kilometer dari Kota Palembang.

Dilansir dari Uri.co.id, berikut kronologi kejadiannya berdasarkan waktu sejak dikabarkan hilang sampai ditemukan.

1. Selasa 7 Mei 2019, Tampak Gelisah

Malam itu saat sedang bekerja di Indomaret Jl Jenderal Sudirman, Vera Oktaria terlihat gelisah.

Rekan tempatnya bekerja melihat paling tidak ada puluhan kali telepon masuk ke ponselnya.

“Malam itu saya mendengar telepon korban berdering kurang lebih 10 kali, terdengar korban mengangkat telepon dan berkata ‘tidak bisa, tidak bisa’ namun masih saja terdengar bunyi handphone nya hingga dia pulang bekerja,” ujar Dwi teman sekerja Vera Oktaria.

Pukul 23.30, Vera Oktaria pamit pulang.

Sekitar satu jam kemudian, keluarga Vera Oktaria datang ke toko dan bertanya tentang keberadaan Vera yang belum juga pulang ke rumah.

2. Selasa 8 Mei 2019, Check In Hotel

Seorang pria berinisial D check in kamar Penginapan Sahabat Mulya, Jalan PT Hindoli, Kelurahan Sungai Lilin Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Muba.

“Pemesan kamar tanpa menyertakan KTP saat menginap, menurut saksi ada dua orang laki-laki dan satu perempuan, diduga korban,” kata Supriadi.

Supriadi menjelaskan, pria tersebut memesan kamar pada Rabu (8/5/2019).

3. Jumat 10 Mei 2019, Mayat Ditemukan

Petugas penginapan mencurigai kamar nomor 06 karena bau busuk.

Sehari sebelumnya petugas penginapan juga sudah curiga namun tak berbuat apa-apa. Baru keesokan harinya mereka menghubungi polisi.

Nurdin yang merasa curiga langsung mengetuk pintu kamar dan mencoba untuk membuka pintu tersebut tapi tidak ada respon dari penghuni kamar.

Karena dikira tidak terjadi apa-apa Nuridin langsung menghubungi orang tuanya untuk menanyakan keberadaan tamu tersebut yang tidak kembali setelah membawa kunci tersebut.

“Saya curiga waktu saya bersihkan lantai mencium bau busuk, nah baru besoknya (hari ini) bau busuk itu semakin kuat langsung saya hubungi Polsek Sungai Lilin.”

“Setelah pihak polsek Sungai lilin datang, kamar tersebut baru di buka. Ditemukan sesosok wanita di atas ranjang dalam keadaan tanpa busana dengan kondisi tangan terpotong jenazah membengkak ditutupi dengan selimut,” ujar Nurdin.

Kasus Mutilasi Guru Honorer

Sebelumnya, kasus mutilasi juga sempat menimpa Budi Hartanto (28) guru honorer asal Kota Kediri

Jasad guru honorer Budi Hartanto ternyata tak muat dimasukkan koper untuk dibuang sehingga kepalanya pun dipenggal.

Selanjutnya tubuh dan kepala Budi Hartanto, sang guru honorer yang dimutilasi dibuang di lokasi berbeda.

Fakta-fakta terbaru kasus tersebut terungkap dalam gelar perkara di Mapolda Jatim, Senin (15/4/2019).

Di sisi lain, kedua pelaku masih belum terbukti melakukan pembunuhan berencana.

“Kalau korban datang karena ajakan pelaku, ya jelas bisa kami perberat sebagai pembunuhan berencana,” kata Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Leonard Sinambela  pada awak media.
11 FAKTA TERBARU Pelaku Mutilasi Guru Honorer Asal Kediri, Tetap Dihabisi Meski Mengaku Saling Cinta

Dua pelaku pembunuh Budi Hartanto.(/Luhur Pamudi)

Sejauh ini, ancaman pasal 340 KUHP sub pasal 338 KUHP dan atau 365 ayat 3 KUHP dengan ancaman hukuman seumur hidup atau 20 tahun penjara atau 15 tahun penjara, lanjut Leo, telah menanti kedua pelaku.

Seperti diketahui, terungkap kasus mutilasi guru honorer asal Kediri, Budi Hartanto yang dibuang dalam Koper ternyata meninggal usai berhubungan badan dengan pelaku.

Fakta mengenai mutilasi guru honorer ini diperoleh sendiri dari pengakuan satu tersangka yang bernama Aris Sugianto, Senin (15/4/2019).

Menurut pengakuan Aris Sugianto, ia berhubungan badan dengan korban Budi Hartanto di warung miliknya, Jalan Surya, Sambi, Ringinrejo, Kota Kediri, Selasa (2/4/2019) silam.

“Di tempat itu, pelaku dan korban melakukan hubungan badan sesama jenis alias gay,” kata Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Pol Gupuh Setiono mengutip kata-kata Aris Sugianto, Senin (15/4/2019).

Bahkan menurut keterangan dari Aris Sugianto, hubungan badan yang dilakukannya bersama korban ini bukan pertama kali dilakukan.

Aris Sugianto terhitung sudah tiga kali melakukan hubungan intim bersama Budi Hartanto.

Keduanya melakukan hubungan tersebut di kediaman Aris Sugianto.

Setelah berhubungan badan, Aris Sugianto selalu memberikan uang kepada korban.

Itu sebagai bukti bahwa dirinya mencintai korban.

“Setiap kali berhubungan, Aris ngasih uang ke korban. Aris sayang pada korban, dan akan memberikan apa yang diminta korban,” tambah Gupuh kepada .

Namun untuk hubungan intim yang keempat kalinya, Aris Sugianto dan korban sengaja melakukan di ruangan di sebuah warung miliknya.

Gupuh melanjutkan, usai melakukan hubungan badan, percekcokan antara Aris Sugianto dan korban dimulai.

Saat itu, korban meminta uang bayaran kepada tersangka Aris Sugianto.

Sayangnya, saat itu Aris Sugianto sama sekali tak membawa uang seperti yang diminta korban.

Hal tersebut ternyata membuat korban marah dan emosi.

“Usai lakukan hubungan intim di dalam kamar, karena Aris gak bisa ngasih uang ke korban, korban marah-marah,” jelasnya.
TERBARU - Guru Honorer Dihabisi usai Berhubungan Intim dengan Tersangka, Cek-cok setelah Gak Dibayar

Guru Honorer Dihabisi usai Berhubungan Intim dengan Tersangka, Cek-cok setelah Gak Dibayar (/ jatim)

Saat pertengkaran tersebut terjadi, waktu telah menunjukkan pukul 22.00 WIB.

Salah seorang tersangka lain, Aziz yang berada di luar kamar, tak tahan dengan suara percekcokan yang terdengar cukup kencang itu, berinisiatif menegur korban.

Akan tetapi, korban malah balik menegur Aziz.

“Diingatkan  Aziz tapi korban tak terima, korban malah bilang ini bukan urusan kamu,” tuturnya.

Tak cuma membantah teguran Aziz, tanpa diduga korban justru melayangkan sebuah tamparan ke arah pipinya.

“Tak terima, Aziz juga membalas,” tambah Gupuh.

Akibat Aziz yang melawan, korban lantas mengambil sebilah golok sepanjang sekitar 10 sentimeter yang tergeletak di sebuah tempat duduk atau bale di depan warung.

Golok tersebut diambil korban untuk disabetkan ke arah Aziz.

“Korban itu malah mengambil golok lalu diayunkan ke arah Aziz. Tapi Aziz bisa menangkis,” lanjutnya.

Usai menangkis, Aziz yang berupaya merebut golok dari tangan korban, ternyata berhasil.

Tanpa pikir panjang, mengingat senjata golok telah berpindah tangan.

Kali ini justru Aziz yang berbalik menyabetkan golok tersebut ke arah korban.

Sabetan pertama tak langsung menumbangkan korban, namun sabetan Aziz mampu mengenai lengan kiri korban.

“Kemudian korban jatuh tertelungkup, lalu teriak-teriak, saat itulah Aziz berkali-kali menyabetkan golok,” katanya.

Gupuh menerangkan, bersamaan dengan aksi Aziz yang telanjur kalap bertubi-tubi mengibaskan sabetan, Aris Sugianto muncul membantunya, menyumpal mulut korban hingga meregang nyawa.

“Jadi mulut korban disumpal, makanya hasil otopsi menunjukkan korban mati karena kehabisan nafas,” jelasnya.

Setelah korban dipastikan tumbang dan meregang nyawa, lanjut Gupuh, kedua tersangka ini berupaya menghilangkan jejak dengan cara membuang mayat tersebut ke suatu tempat.

Namun sebelum itu keduanya masih harus menemukan cara memindahkan mayat korban.

Maka, ungkap Gupuh, muncullah ide dari Aris Sugianto memasukkan mayat korban ke dalam sebuah koper milik ibunya.

“Aris waktu itu ya langsung pulang, ambil koper milik ibunya,” tuturnya.

Lalu saat proses pengemasan mayat ke dalam koper, muncul masalah baru.

Gugup menambahkan, ternyata koper tersebut tidak muat.

“Pas dimasukin gak cukup, dikeluarkan lagi, lalu Aris usul kepala korban dipotong,” katanya.

Usai kepala korban dipotong, akhirnya mayat tersebut muat disimpan ke dalam koper tersebut.

Gupuh menyebut, mayat korban ditekuk secara paksa di dalam koper. Lalu dibuang di bawah jembatan Karang Gondang, Udanawu, Blitar.

Sedangkan kepala korban diwadahi kantong kresek untuk dibuang di bantaran sungai Ploso Kerep, Bleber, Kras, Kediri.

“Kejadian itu dilakukan Selasa malam,”  tambahnya.

Dalam penjelasannya, Kombes pol Gupuh Setiono menyatakan ada sejumlah motif pembunuhan yang saling terkait.

Di satu sisi ada motif asmara, namun di sisi yang lain juga terjadi motif perselisihan diantara kedua pelaku dan korban.

“Hubungan asmara sesama jenis, terus berakhir perselisihan karena tidak diberikan uang dan berakhir dengan pertengkaran yang mengakibatkan korban dibunuh,” tandasnya. (jatim.com/luhur pambudi)

* Uri.co.id  Vera Oktaria Dimutilasi di Sungai Lilin, Ternyata Baru Seminggu Kerja di Indomaret, Pamit Mau Pulang ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!