14 pelukis persembahkan “Banyumili” untuk Surabaya

oleh

Surabaya – Sebanyak 14 pelukis asal Jawa Timur mempersembahkan pameran lukisan bertajuk "Banyumili" untuk menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Surabaya ke- 726, yang dipamerkan di Galeri Paviliun House of Sampoerna Surabaya, 2 Mei – 15 Juni 2019.
 
"Banyumili", yang dalam bahasa Jawa berarti air mengalir, dipilih sebagai tema dalam pameran tersebut untuk menggambarkan media cat air yang digunakan oleh seluruh pelukis yang terlibat dalam pameran ini. 

"Proyek pameran yang secara khusus dibuat untuk menyambut HUT Kota Surabaya ke- 726 ini sungguh menantang karena harus menggunakan media cat air. Saya sendiri sudah hampir 20 tahun tidak pernah menggunakan media cat air dalam melukis," ujar Joko Pramono, salah satu pelukis yang ikut berpameran, saat dikonfirmasi di Surabaya, Jumat. 

Pelukis asal Sidoarjo, Jawa Timur, yang akrab disapa Jopram itu menampilkan karya trilogi yang menonjolkan salah satu kawasan bersejarah Jembatan Merah Surabaya.   

"Jenderal Mallaby dari pihak sekutu Inggris gugur di Jembatan Merah oleh serbuan Arek-arek Suroboyo. Melalui karya trilogi Jembatan Merah ini saya ingin kembali mengobarkan semangat nasionalisme bagi generasi milenial," katanya.

Selain Jopram, para pelukis yang terlibat dalam pameran ini adalah Agus Koecingk, Aimee Huebi, Andeanus Gunawan, Budi Bi, Fabiola Natasha, Hamid Nabhan, Ipeng, Lukman Gimen, Pudji Kustiawan, Saiful Mujib Maruf, Taufik Kamajaya, Wahyu Sigit Crueng dan Yoes Wibowo.

Mayoritas pelukis tersebut sudah lama meninggalkan media cat air dalam proses berkarya kesehariannya dan rata-rata beralih menggunakan cat akrilik. 

Dalam pameran "Banyumili", mereka dipaksa menggunakan kembali media cat air. Hasilnya, pameran tersebut memunculkan warna-warni kehidupan Kota Surabaya, mulai dari sosok masyarakatnya, serta lanskap dan panoramanya.  

Salah satu pelukis yang selama ini terpantau setia menggunakan media cat air adalah Hamid Nabhan. Dalam pameran itu, pelukis asal Kampung Nyamplungan Surabaya itu menampilkan tiga karyanya tentang panorama alam yang masih hijau di kawasan tambak Wonorejo Surabaya.

Menggunakan media cat air, selama ini Hamid Nabhan memang kerap mengabadikan pepohonan dan panorama alam di wilayah Kota Surabaya.

"Saya ingin menunjukkan bahwa lanskap Kota Surabaya tidak hanya berisi gedung-gedung bertingkat. Pepohonan yang hijau juga masih bisa dinikmati di Kota Surabaya," katanya. (*)      

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!