VIDEO – Aplikasi Matakota untuk Membangun Smart City Kota Surabaya | Surabaya Uri.co.id

Surabaya Uri.co.id

Menu

VIDEO – Aplikasi Matakota untuk Membangun Smart City Kota Surabaya

VIDEO – Aplikasi Matakota untuk Membangun Smart City Kota Surabaya
Foto VIDEO – Aplikasi Matakota untuk Membangun Smart City Kota Surabaya

URI.co.id| SURABAYA – Turut membantu pembangunan Smart City kota Surabaya, Natek Studio meluncurkan aplikasi bernama Matakota. Aplikasi layaknya media sosial ini bisa diunduh gratis di Playstore untuk android dan Appstore untuk OS.

Cara kerjanya tak berbeda seperti update status di aplikasi media sosial pada umumnya. Hanya saja media sosial Matakota memiliki fungsi utama yaitu media pelaporan kasus yang membutuhkan respon cepat. Di antaranya bencana banjir, kebakaran, perampokan atau pencopetan, dan laporan masalah sosial lainnya.

“Kami meyediakan lima fitur, diantaranya update informasi kebakaran, pencurian atau perampokan, update lalu lintas, dan banjir. Sebagai tambahan terdapat sebuah fitur khusus yaitu panic button. Fitur ini berfungsi memberikan informasi langsung ke command center di beberapa instansi terkait seperti pemerintah kota, kepolisian, rumah sakit, tim SAR, dan pemadam kebakaran. Sehingga pemerintah bisa secara cepat dan tanggap mengatasi permasalahan yang terjadi,” jelas Tony Susanto, Founder Matakota, Rabu (5/4/2017).

Tony melanjutkan fitur panic button memang dirancang terhubung langsung dengan instansi terkait. Untuk menghindari laporan palsu, Matakota memberikan syarat khusus yang harus dipenuhi sehingga tidak sembarang orang bisa menggunakan fitur tersebut.

“Bagi mereka yang ingin menggunakan fitur ini harus melakukan registrasi dengan mendaftarkan Nomor Induk Kependudukan, yang terverivikasi di Dispendukcapil (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil). Ini salah satu upaya untuk menghindari fake report atau laporan palsu. Fitur panic button akan mengirim informasi keberadaan pelapor (secara otomatus) ditandai dengan suara sirine di instansi terkait secara real time,” tambah Gita Hanandika, Mobil App Developer Natek Studio.

City Update
Selain panic button, masih ada beberapa fitur lainnya yang bisa diakses tanpa registrasi NIK seperti city update yaitu informasi kebakaran, pencurian atau perampokan, lalu lintas, banjir, dan kejadian di sekitar lokasi user berada. Meski tidak menggunakan NIK kartu tanda penduduk, informasi yang dibagikan pengguna bisa dilaporkan, jika berita itu palsu.

“Setiap user bisa update dan melihat informasi yang dibagikan user Matakota lainnya melalui time line yang tersedia. Tak jarang informasi yang dibagikan itu adalah informasi palsu. Mengetahui informasi itu tidak benar atau palsu, anda tidak perlu khawatir. Kami sudah menyediakan fitur fake report untuk melaporkan informasi tersebut. Jika terdapat user menerima 5 fake report dari user lain, otomatis informasi itu akan hilang dari time line Matakota. Cara kerja fake report ini sama seperti media sosial Facebook dan lainnya,” terang Tony.

Selain lima fitur tersebut, Tony menuturkan Matakota juga menyediakan ruang untuk intansi pemerintahan terkait kepada masyarakat (user) secara langsung, lewat fitr “even”. Pemerintah bisa menghemat biaya untuk sosialisasi atau menyampaikan informasi ke publik.

Tony melanjutkan aplikasi Matakota saat ini masih fokus untuk kota Surabaya. Mengingat sejak pembuatanya November 2016 lalu sejalan dengan tujuan pemerintah kota Surabaya yang ingin menciptakan Smart City.

“Sementara membangun Smart City juga dibutuhkan Smart Citizen. Karena membangun Smart City tanpa Smart Nitizen akan sulit tercapai. Oleh karena itu untuk mewujudkan Smart City, pemerintah dan masyarakat yang sudah smart dan aware perlu terintregasi. Kami sudah bersinergi dengan pemerintah kota, rencananya aplikasi ini akan kami berikan secara gratis,” sergah Afietadi Mamak Kurniawan, Digital Marketing Natek Studio ikut menambahi.

Pihaknya berharap aplikasi ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat Surabaya, sebagai media sharing informasi untuk mendapatkan solusi. Bukan malah sebaliknya menjadi media curhat dan menyampaikan keluhan.

“Beberapa aplikasi serupa memang sudah digunakan di kota-kota besar di Indonesia. Sayangnya semakin kesini, menurut kami aplikasi itu malah jadi tempat berkeluh kesah atau head speech. Kami tidak ingin Matakota ini menjadi seperti itu, sesuai take line kami Connect, Contribute, and Care setiap user di Matakota kami ajak untuk saling berkoneksi, membagikan informasi. Saling Contribute (kontribusi) and care (peduli) yaitu ketika ada yang kesusahan di sekitar bisa langsung ikut membantu,” tegas Mamak.

Inovasi
Selain fitur report, Matakota juga merilis produk inovasi fitur Lost & Found dengan menggunakan bacon, IoT (Internet of Things). Fitur ini berfungsi sebagai pelacak barang yang hilang berdasar community yang membutuhkan bluethooth dan GPS (Global Positioning System) untuk menemukan barang tersebut.

“Bacon kami desain sekecil mungkin misalnya dalam bentuk jam tangan atau kalung yang nantinya bisa diletakkan di barang bawaan, seperti tas. Jika tas itu hilang, bisa dilihat keberadannya dari aplikasi Matakota ini. Fitur ini masih akan kami kembangkan, kedepannya kami akan produksi masal dan menjualnya dengan harga yang tak terlalu mahal,” Jelas Arwani, Mobile App Developer Natek Studio.

Manfaat Matakota
Untuk Instansi Terkait
1. Membantu Instansu berwenang untuk menerima laporan akurat dan real time
2. Meningkatkan Response Time terhadap kasus gawat darurat
3. Mendapatkan data base titik rawan gawat darurat
4. Mendapatkan titik sebaran kriminalitas
5. Mendapatkan area mobilitas kependudukan
6. Memperluas pantauan pertolongan pertma pada bencana alam

Untuk Masyarakat
1. Masyarakat tidak perlu bingung lagi melakukan laporan keadaan darurat
2. Memudahkaan masyarakat mendapatkan informasi di sekitar area
3. Meningkatkan kepercayaan masyarakat pada pemerintah
4. Memudahkan masyarakat menemukan barang hingga orang yang hilang
5. Meningkatkan awerness dan sikap hati hati
6. Meningkatkan partisipasi masyarakat untuk wujudkan smart city. (uri/osua/enu/fwika/YYA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Surabaya Uri.co.id